Blog ini berupaya secara rutin untuk memublikasikan Tabel Seleksi Saham sebagai panduan trading untuk saham-saham anggota ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) secara short term

Cara menggunakan Tabel tersebut secara singkat adalah sebagai berikut:  


Sinyal, Value dan Volume:
Setelah memperhatikan sinyal teknikal (kolom 4; dan kolom tentang sinyal Moving Average, MACD dan Stochastic; serta kolom sinyal Wiseman dan Candlestick), Anda disarankan memilih saham-saham yang likuid atau memiliki nilai rata-rata transaksi (value) yang cukup besar (kolom 5; dalam satuan miliar), serta kenaikan volume yang signifikan, baik terhadap sebelumnya (kolom 6) maupun dibandingkan rerata volume 20 hari (kolom 7). Cermati bila ada sinyal yang kontradiktif.  


Risk-Reward
Untuk komparasi risk-reward dan tingkat kejenuhan dari suatu tren naik/turun, perhatikan kolom data perubahan harga baik untuk harian, mingguan dan bulanan. Anda juga dapat memperhatikan kolom Impulse Bars (yang menunjukkan jumlah hari pergerakan naik/turun), dan Stochastic untuk keperluan tersebut. Umumnya, kenaikan harga secara signifikan juga meningkatkan potensi profit taking (koreksi). Demikian pula sebaliknya.  

Target: 
Untuk target profit, kami sarankan Anda menggunakan Trailing Stop (TS) sebagai acuan exit point (profit taking). Posisi TS yang sederhana adalah satu tick (level) di bawah Low atau Mid-Price (tergantung tingkat toleransi risiko Anda) dari candle sebelumnya. Anda juga dapat membuat TS dari Simple Moving Average 5 hari (MA-5) atau MA-10, misalnya. Posisi TS bergerak dinamis, ia bergerak ke atas seiring dengan kenaikan harga, namun TS tidak diperkenankan untuk bergerak turun, kecuali untuk TS berupa MA-5 atau MA-10. Anda merealisasikan keuntungan hanya apabila harga kembali melemah hingga menyentuh posisi exit point tersebut. Selama itu belum terjadi, maka let your profit runs! 

Portfolio Management:
Maksimal dana yang disarankan untuk pembelian satu saham adalah tidak melebihi 5% dari nilai rata-rata transaksi (value) harian (lihat kolom 5). Misalnya, untuk saham X dengan nilai transaksi Rp100 miliar, maka maksimal dana yang dapat digunakan untuk membeli saham X adalah Rp5 miliar. 

Selain itu, Anda juga tidak disarankan memegang banyak saham untuk posisi trading. Maksimal hanya 5 (lima) saham saja. Hal ini agar antara lain Anda dapat memonitor saham-saham tersebut dengan lebih baik, serta merespon perubahan pasar dengan lebih cepat, misalnya untuk cut loss. 

Beta Saham dan Correlation:
Fitur Beta saham dulu pernah kami cantumkan dalam
Tabel Seleksi Saham, namun akhirnya kami hapuskan karena pertimbangan tertentu. Pada prinsipnya, koefisien Beta menandakan sensitivitas dan korelasi saham terhadap pergerakan pasar. Jika nilainya = 1, artinya saham itu bergerak sama persis dengan pasar (lihat bahwa Beta IHSG pasti = 1). Jika Beta > 1, maka biasanya saham tersebut bergerak searah pasar namun lebih agresif. Jika Beta < 1, maka umumnya saham dimaksud kurang merespon atau bergerak lebih lambat dibandingkan pasar (biasanya saham defensif termasuk jenis ini, termasuk pula saham 'gorengan' yang sedang 'tidur'). Dan, bila Beta < 0 (negatif), maka umumnya saham itu bergerak melawan pasar (hampir dapat dipastikan bahwa itu adalah saham 'gorengan').

Trader yang mengikuti pergerakan pasar cenderung memilih saham dengan Beta > 1. Bila pasar sedang bullish, jenis ini penting untuk diperhatikan. Informasi tentang Beta saham juga bisa didapat dan dibandingkan dengan link berikut: http://www.reuters.com/finance/stocks/overview?symbol=XXXX.JK (ganti "XXXX" dengan kode saham). Perhitungan statistik Beta saham umumnya menggunakan periode yang panjang, bisa mencapai 5 tahun atau bahkan lebih. Namun Tabel Seleksi Saham di atas menggunakan periode 100 hari untuk simplisitas dan agar lebih selaras dengan dinamika pasar terkini. 


Pada perkembangan selanjutnya, kami memutuskan untuk mengganti Beta dengan Correlation, yaitu persentase kesesuaian pergerakan harga saham terhadap IHSG pada periode tertentu (periode yang digunakan: 100 hari), dengan pertimbangan bahwa hal tersebut lebih cocok untuk trading jangka pendek. Semakin tinggi persentase correlation-nya, menandakan bahwa pergerakan saham tersebut cenderung sesuai atau mengikuti IHSG. Demikian pula sebaliknya. Kolom Correlation ini pun seringkali tidak kami tampilkan dalam rangka simplifikasi. 

Freq Rank
Ini adalah kolom tambahan yang mengindikasikan ranking frekuensi suatu saham, berdasarkan data 200 saham teraktif. Jika suatu saham menempati ranking 1 (pertama), artinya saham tersebut adalah yang paling aktif ditransaksikan pada hari tersebut. Semakin aktif saham tersebut maka semakin baik, dan mengindikasikan semakin banyak pihak yang berpartisipasi dalam saham dimaksud. 

Net Buy Up:
Kami dulu juga pernah menampilkan kolom Net Buy Up (di kolom terakhir). Ia merupakan persentase selisih antara Buy Up (BU) atau pembelian di Offer ("makan kanan", tidak antri di Bid) dan Sell Down (SD) atau penjualan di Bid ("makan kiri", tidak antri di Offer, terhadap total  volume. Rumusnya: (BU - SD) / Total Volume x 100. Ini untuk mengukur kekuatan transaksi beli atau jual. Kolom ini pun akhirnya kami hapuskan karena persoalan ketidaktersediaannya pada datafeed standar dan juga kendala teknis lainnya.  

Others: 
Tabel Seleksi Saham ini menggunakan AFL (AmiBroker Formula Language) untuk proses perhitungan otomatis by system berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.  Tidak ada campur tangan yang sifatnya subjektif.

Hal PENTING sebagai penutup, jika rekomendasi saham yang muncul ternyata tidak/belum sesuai dengan gaya trading dan/atau intuisi Anda, maka JANGAN PAKSAKAN DIRI ANDA UNTUK TRADING. Lebih bijak bila Anda menunda trading sampai muncul sinyal atau rekomendasi yang Anda 'sreg' dengannya. Terakhir, jangan lupa untuk selalu DISIPLIN dengan rencana trading yang sudah dipersiapkan, khususnya untuk CUT/STOP LOSS! Ingat, ketidakdisiplinan berbanding lurus dengan tingkat kerugian.  






Posting Komentar

  1. Maaf mas untuk Kolom Net Buy Up itu maksudnya apa ya mas? Masih Newbie mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kolom persentase selisih antara Buy Up (BU) atau pembelian di Offer (tidak mengantri di Bid) dan Sell Down (SD) atau penjualan di Bid (tidak mengantri di Offer) terhadap total volume.

      Rumusnya: (BU - SD) / Total Volume x 100

      Hapus

 
Top